Hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak buang air adalah sebagai berikut :
1. Mencari tempat yang sepi dari manusia, dan jauh dari penglihatan, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir ra., beliau berkata: “Ketika Rasulullah ingin buang air besar, maka beliau pergi (ke suatu tempat) sampai tidak ada satupun orang yang melihatnya.” (HR. Abu Daud)
2. Tidak boleh membawa sesuatu yang bertuliskan nama Allah kecuali dibutuhkan untuk tujuan membersihkan dan mensucikan nama-Nya. Karena, dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw. mengenakan cincin yang ada tulisannya Muhammadur Rasulullah, namun ketika beliau masuk WC, beliau melepaskannya. (HR. Abu Daud)
3. Masuk toilet/WC dengan mendahulukan kaki kiri sambil membaca doa. Juga disunnahkan membaca Bismillah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ali ra., beliau berkata: “Rasulullah bersabda: “Penutup antara jin dengan aurat anak Adam jika masuk ke WC adalah bacaan bismillah.” (HR. Ibnu Majjah)
Doa masuk toilet/WC :
اللَهُمَ إِنِي أَعُوذُ بك مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ
“Alloohumma innii a’uudzu bika minal khubutsi walkhobaaits”
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan. (HR. Muttafaq Alaih)
4. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian duduk untuk buang hajat, maka jangan menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya.”
5. Tidak buang air di tempat berteduhnya manusia, di jalanan, di mata air, di pohon-pohon yang berbuah. Rasulullah saw. bersabda,“Takutlah pada tiga tiga tempat buang hajat: di aliran air, di tengah jalan, dan tempat berteduh.” (HR Hakim dengan sanad yang baik). Juga tidak boleh kencing di lobang atau rumah binatang, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Abdullah bin Abbas ra., bahwa Rasulullah saw., pernah melarang kencing di lobang binatang.” Qatadah ditanya: “Mengapa tidak boleh kencing di lobang?” Beliau menjawab: “Karena tanah yang berlobang itu adalah rumah bangsa jin, juga tidak bisa dijamin keamanannya apabila ada binatang yang keluar dari lobang tersebut kemudian menggigitnya, atau jika tempat itu ternyata lobang milik jin, maka hal ini akan menyakitinya.”
Alat Istinja
- Tidak beristinja dengan tangan tulang, atau kotoran hewan. Rasulullah saw. bersabda,“Janganlah kalian beristinja dengan kotoran hewan dan tulang, karena hal itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari golongan jin.” (HR Bukhari dan Muslim). Selain itu, tidak beristinja dengan hal-hal yang mengandung manfaat, seperti pohon rami yang bisa digunakan dengan daun dan yang lainnya dari barang-barang yang bernilai, karena meniadakan sesuatu yang bermanfaat dan merusak sesuatu itu diharamkan.
- Tidak boleh menyentuh kemaluannya atau cebok dengan tangan kanan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw., pernah bersabda: “Tidak boleh seorangpun dari kalian yang menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan, juga tidak boleh membersihkannya setelah buang air kecil dengan tangan kanan.” (HR. Muttafaq Alaih)
- Melakukan istinja dengan ganjil, misalnya dengan tiga batu, jika belum bersih dengan lima batu. Salman r.a. berkata,“Rasulullah saw. melarang kami menghadap kiblat ketika buang air dan melarang istinja dengan tangan kanan, atau menggunakan batu kurang dari tiga, dan melarang istinja dengan kotoran hewan dan tulang.” (HR Muslim).
- Jika ingin menggunakan air dan batu, maka terlebih dulu menggunakan batu, kemudian dengan air. Jika cukup dengan salah satu dari keduanya, maka diperbolehkan, hanya saja dengan air itu lebih baik. Aisyah berkata,“Perintahkan suami-suami kalian untuk beristinja dengan air, karena aku malu kepada mereka dan karena Rasulullah saw. terbiasa berbuat seperti itu.” (HR Tirmizi, dan ia menyahihkannya).
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Setelah Buang Air :
1. Keluar dari tempat buang air dengan mendahulukan kaki kanan, seperti yang biasa diperbuat oleh Rasulullah saw.
2. Membaca doa keluar toilet/WC :
غفرانك
“Ghufraanaka”
“Ya Allah, ampunilah aku.” (HR Abu Dawud dan Tirmizi)
Atau doa :
“Alhamdu lillaahil ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa ‘aafaani”
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan dariku dan memberikan kesehatan kepadaku.”


0 Tanggapan ke “Buang Hajat”